"Dia benar-benar melakukannya," gumam Maret dengan suara bergetar. "Revan... monster itu... sudah mati."

Sorak-sorai yang sebelumnya datang dari prajurit Monrest kini berubah menjadi keheningan. Sisa-sisa pasukan Monrest menatap abu yang dulunya adalah tubuh Revan, ketakutan merayap ke wajah mereka. Beberapa dari mereka menjatuhkan senjata, sementara yang lain mulai mundur perlahan.

"Kita tidak bisa melawan dia!" teriak salah satu prajurit Monrest. "Revan sudah mati, kita harus lari!"

"Lari!" seru yang lain, dan seperti air bah, mereka mulai melarikan diri ke arah hutan, meninggalkan perkemahan. Sorak-sorai kemenangan mereka berubah menjadi teriakan panik, dan dalam hitungan menit, rawa itu kosong dari musuh.

"Jangan biarkan mereka melarikan diri, kejar!" Teriak Karim. Dia tidak ingin para prajurit yang melarikan diri melapor kepada ketua mereka.

"Tidak! Jangan dikejar!" Perintah Maret. "Kita bukan lawan mereka, sudah banyak rekan kita yang terbunuh dan terluka. Selain itu, suku Monrest pasti bisa mengetahui apa yang telah terjadi disini," lanjutnya.

Sherly, yang berdiri di belakang garis pertahanan, menatap pemandangan itu dengan campuran perasaan antara lega dan cemburu. "Dia melakukannya," gumamnya pelan, tapi nadanya tidak sepenuhnya kagum. Matanya tertuju pada Leena yang masih bersama Lynx, rasa iri membakar di dalam dirinya.

Lynx membantu Leena berdiri perlahan, meskipun tubuhnya sendiri hampir tidak bisa menopang berat badannya. Penduduk Sinto mulai mendekat, beberapa dari mereka masih ragu-ragu, sementara yang lain sudah mulai bersorak pelan.

"Kau menyelamatkan kami," ujar Maret akhirnya, suaranya tegas meskipun wajahnya masih menunjukkan rasa kagum. "Kau menyelamatkan desa ini, Lynx. Kami semua berutang nyawa padamu."

"Itu bukan hanya aku," kata Lynx dengan suara lemah. Ia memandang Leena dan kemudian para pejuang Sinto yang masih berdiri di posisinya. "Kita semua bertarung untuk ini."

Leena tersenyum kecil, meskipun wajahnya masih pucat. "Tapi kau yang menghentikan Revan. Kau yang menyelamatkan kita."

"Jangan ulangi lagi perbuatanmu Leena, aku tidak ingin kamu terluka lagi seperti ini kedepannya," kata Lynx sambil memandang Leena dengan sorot mata penuh kasih sayang.

Leena tersipu malu melihat cara Lynx memandangnya dan merasakan kebahagiaan tersendiri.

Karim, yang sebelumnya sibuk memeriksa musuh, berlari mendekat. "Apa kau baik-baik saja, Lynx?" tanyanya cemas.

"Aku akan hidup," balas Lynx sambil tersenyum kecil. "Tapi aku rasa aku tidak akan bisa bertarung lagi hari ini."

Karim menatap abu yang tersisa dari Revan dengan rahang mengeras. "Apa itu tadi? Apa yang sebenarnya dia lakukan?"

"Dia mengorbankan rekan-rekannya sendiri," jawab Lynx sambil menunduk. "Dia menelan sesuatu... bentuknya seperti batu. Itu mengubahnya menjadi monster."

Maret mendesah panjang, matanya penuh kecemasan. "Kekuatan seperti itu... kalau ada lagi yang tahu cara melakukannya... kita semua bisa dalam bahaya."

"Kita tidak punya waktu untuk memikirkan itu sekarang," kata Lynx sambil menghela napas. "Kita harus memperkuat desa ini. Jika Monrest kembali dengan kekuatan lebih besar, kita harus siap."

Penduduk Sinto saling memandang, dan satu per satu mereka mulai mengangguk, semangat mereka kembali bangkit. Mereka sadar bahwa meskipun Revan telah dikalahkan, ancaman di luar sana masih jauh dari selesai.

Sementara itu, di sisi lain rawa, Sherly berdiri sendirian, matanya menatap punggung Lynx yang dikelilingi oleh penduduk Sinto. Tangannya mengepal, dan pikirannya dipenuhi berbagai rencana.

"Dia semakin jauh dariku," gumamnya pelan. "Tapi aku tidak akan menyerah."

Ketika malam tiba, Lynx duduk di dekat api unggun kecil, tubuhnya bersandar pada batang pohon. Leena duduk di sampingnya, meskipun tubuhnya masih lemah, ia tetap tersenyum.

"Kau harus istirahat," kata Leena lembut. "Kau sudah melakukan cukup banyak hari ini."

"Aku tidak bisa," balas Lynx sambil menatap bintang di langit. "Kalau aku tidur, aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi."

Leena menggeleng pelan, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Lynx. "Kau menyebutnya tadi... Pukulan Matahari. Itu nama yang bagus."

Lynx tersenyum kecil. "Itu hanya nama... aku tidak tahu apakah aku bisa melakukannya lagi."

"Tapi kau melakukannya sekali," kata Leena. "Dan itu sudah cukup untuk menyelamatkan kita semua."

"Leena, kamu sungguh berani. Aku tidak menduga kamu akan berani mengorbankan nyawa untuk menolongku." Kata Lynx sambil menggenggam tangan Leena.

"Kau tahu Lynx... Aku dari kecil hidup mandiri karena pengaruh keluargaku yang broken home, tapi para keluarga dari kedua orang tuaku sangat menyayangiku. Mereka selalu melindungi dan menyayangiku, memanjakanku." Kata Leena. "Disini awalnya aku berpikir harus bisa mandiri dan kuat, tapi ketakutanku dengan segala sesuatu yang asing disini membuatku sangat ketakutan dan pasrah. Kehadiran dirimu yang selalu melindungi dan menjagaku membuatku kembali untuk bersemangat. Kamu selalu menolongku," lanjutnya.

Sambil menghela napas, dia melanjutkan, "Tanpa kusadari, aku sangat bergantung padamu sekarang ini dan takut kehilangan dirimu."

Lynx yang mendengar kata-kata Leena merasakan kebahagiaan yang tidak bisa diutarakan, meski tidak ada kejelasan mengenai status hubungan mereka, tapi satu hal yang pasti, Lynx dapat merasakan mereka memiliki perasaan yang sama.

Matahari pagi memancarkan cahayanya ke perkampungan Sinto, tapi sinar itu terasa suram di tengah kekacauan yang tersisa. Tubuh-tubuh para korban, baik dari Monrest maupun Sinto, tergeletak di sekitar rawa dan perbatasan. Tangis pelan dari keluarga yang kehilangan terdengar di beberapa sudut kampung, sementara para pria yang tersisa sibuk menguburkan rekan-rekan mereka yang gugur.

Lynx duduk di sebuah batu besar di dekat pusat kampung, luka-luka pada tubuhnya sudah tidak terlihat, kekuatannya membuat proses penyembuhan dapat berlangsung dengan lebih cepat. Leena duduk di sampingnya, wajahnya suram saat memandang penduduk yang berlalu-lalang dengan kesedihan. Maret, kepala suku, mendekat bersama beberapa tetua lainnya, ekspresinya penuh kelelahan.

“Kita kehilangan banyak orang,” kata Maret pelan, suaranya serak. “Dari seluruh warga yang ikut pertempuran kita kemarin, hanya setengahnya yang masih bisa bertahan. Banyak yang terluka, dan mereka yang selamat tidak akan pernah sama lagi.”

Leena mengusap lengannya sendiri, mencoba menenangkan diri. “Mereka datang dengan begitu banyak... dan Revan hanya salah satu dari mereka. Masih ada pimpinan lainnya, bukan?”

Maret mengangguk pelan. “Benar. Monrest memiliki banyak pimpinan, jumlah mereka sangat banyak. Mereka memiliki beberapa panglima yang bertanggung-jawab terhadap area.  Revan, Nesa dan Jor hanyalah pemimpin para prajurit yang posisinya masih dibawah para panglima tersebut. Masih ada Damon, pemimpin tertinggi mereka. Dan Damon... jauh lebih kuat daripada siapa pun di antara mereka.”

Lynx menatap Maret dengan serius. “Jika begitu kita tidak bisa lagi menetap di tempat ini?”

Beberapa tetua menoleh, terkejut mendengar kata-kata itu. Salah satu dari mereka, pria tua bernama Kirno, berbicara dengan nada ragu. “Apa maksudmu, Lynx? Ini kampung kami. Kami sudah tinggal di sini selama beberapa generasi.”

“Itu sebelum Monrest menjadi ancaman,” balas Lynx tegas. “Lihat sekeliling kalian. Kita berhasil menang hari ini, tapi hanya dengan keberuntungan. Mereka akan kembali, dan kali ini mereka akan membawa lebih banyak orang. Desa ini terlalu terbuka. Kita tidak punya cukup pertahanan.”

Maret menghela napas panjang. “Aku tahu apa yang kau maksud, Lynx, tapi ini bukan keputusan yang mudah. Kampung ini adalah rumah kami.”

“Rumah ini akan menjadi kuburan kalian kalau kalian tetap tinggal,” kata Lynx dengan nada yang sedikit keras. Ia menghela napas, mencoba menenangkan diri. “Maaf, tapi aku tidak bisa membiarkan kalian membuat keputusan yang salah. Ada tempat lain di pulau ini, tempat yang lebih aman. Kita harus pindah.”

“Tapi ke mana?” tanya Kirno dengan nada curiga. “Kita tidak bisa berjalan tanpa arah.”

“Ke barat,” kata Lynx. Ia mengeluarkan peta kasar dari kantongnya, menunjukkan sebuah wilayah yang ia pelajari sebelumnya. “Ada sebuah tempat di sana, dekat dengan tambang bijih besi yang pernah kutemukan. Di sana, kita bisa membangun sesuatu yang lebih kuat—pertahanan, senjata. Kita bisa melawan mereka.”

“Bijih besi?” Maret mengernyit. “Kau yakin ada di sana?”

“Ya,” jawab Lynx mantap. “Aku menemukannya saat pertama kali menjelajahi pulau ini. Tambang itu besar, dan kita bisa menggunakannya untuk membuat senjata yang bahkan Monrest tidak akan bisa lawan. Dengan bantuan kalian, aku bisa memimpin pembuatan senjata dan alat.”

Sherly yang merasa tujuan dia menjadi semakin jauh dari rencana semula merasa kesal, "Huh, kenapa kita harus mengurus mereka. Kenapa kita tidak urus urusan kita sendiri," katanya didalam hati.

Salah satu tetua lain, seorang wanita bernama Halma, berbicara dengan suara lembut tapi tegas. “Dan bagaimana kita bisa sampai ke sana? Perjalanan ke barat tidak mudah. Banyak hutan lebat dan rawa yang lebih berbahaya daripada ini.”

“Jalur dipeta ini adalah jalur teraman, kami sudah melaluinya. Kita akan membawa semua orang,” kata Lynx. “Tapi kita harus bergerak cepat sebelum Monrest menyadari kekalahan mereka dan menyerang lagi. Dengan persiapan yang tepat, kita bisa sampai ke sana dengan aman.”

“Tapi ini rumah kami!” seru salah satu pemuda dari suku itu, suaranya penuh emosi. “Bagaimana kami bisa meninggalkannya begitu saja?”

Lynx berdiri, meskipun tubuhnya masih terasa berat. “Aku mengerti perasaanmu,” katanya dengan nada tegas tapi penuh pengertian. “Aku juga tahu berat rasanya meninggalkan sesuatu yang telah menjadi bagian dari hidup kita. Tapi rumah bukan hanya tempat. Rumah adalah tempat di mana kalian dan keluarga kalian bisa hidup dengan aman. Tempat ini tidak lagi aman.”

Maret terdiam, wajahnya penuh konflik. Setelah beberapa saat, ia menatap Lynx. “Dan kau yakin tempat di barat itu akan menjadi rumah yang lebih baik?”

“Aku yakin,” jawab Lynx. “Tapi ini bukan hanya soal tempat. Ini soal memberi kalian kesempatan untuk melawan, untuk bertahan. Kalau kita tetap di sini, kita hanya menunggu untuk dimusnahkan.”

Leena, yang sejak tadi diam, akhirnya berbicara. “Lynx benar. Kita harus pergi. Aku tahu perjalanan ini tidak akan mudah, tapi aku percaya pada Lynx. Dia menyelamatkan kita hari ini, dan aku yakin dia bisa memimpin kita ke tempat yang lebih baik.”
